Video Of Day

Breaking News

Geliat Seniman Lestarikan Musik Gambus Lampung

Lnews, Kalianda - Musik gambus merupakan salah satu aset budaya seni tradisional daerah Lampung. Di Kota Kalianda, aliran musik ini bukanlah generasi baru, tetapi telah hadir sejak puluhan tahun silam.

Namun, perubahan zaman yang akhirnya mulai menyingkirkan seni tradisi ini, terutama pasca hadirnya generasi pop, balada, ataupun generasi lokal seperti musik organ tunggal sekarang ini. Itulah sebabnya musik gambus di Kalianda, sekarang ini dapat dikatakan hampir punah. Sehingga, dari masa-kemasa seniman gambus sangat sulit untuk dilahirkan.

Bagi sebagian seniman gambus Kalianda yang hingga kini masih tetap eksis bermain gambus, meski gelombang musik modern  terus menghempas tak menyurutkan niat mereka (seniman gambus Kalianda, red) untuk tetap semangat melestarikan seni tradisi masyarakat Lampung ini.

Gencarnya penetrasi seni pop, generasi lokal organ tunggal, dan musikalisasi modern seperti dijaman sekarang ini, tentunya secara tidak langsung akan mengakibatkan perkembangan seni tradisional daerah ini berjalan di tempat. Jika hal itu tidak ada yang menyelamatkan, diyakini seni musik gambus lambat laun bakal terancam punah.

"Padahal sejak dulu, gambus merupakan salah satu aliran seni musik yang kerap dilantunkan dalam berbagai hajatan warga Lampung Selatan khususnya Kalianda, mulai dari acara kelahiran, khitanan, hingga pernikahan,"ujar Pimpinan Sanggar Budaya Sumokh Jekhing Kalianda Hasan Mata Raja, saat ditemui Lnews.co, di kediamannya, Sabtu (15/11).

Hasan menuturkan, sekitar Tahun 1978 sampai 1980, Kecamatan Kalianda memiliki puluhan musisi yang membentuk kelompok seni musik gambus tidak lebih dari 5 grup.
"Namun, saat ini semuanya sudah tidak aktif lagi. Oleh karena itu untuk kembali membangkitkan musik gambus di Kalianda, saya membentuk group musik gambus bersama dua rekan saya yang sama-sama penyuka musik gambus," tuturnya. 
Dijelaskannya, alunan irama kas padang pasir yang disertai dengan  lirik-lirik bertemakan kesedihan, sangat melekat dalam jenis musik gambus. Di namakan demikian, karena salah satu instrumen didominasi dengan sebuah alat musik petik sejenis gitar bernama gambus. "Agar musik tradisional Lampung ini tetap membudaya di Kalianda, kami terus berupaya mempertahankannya melalui Sanggar Budaya Sumokh Jekhing yang saya pimpin ini,"jelasnya.
Oleh karena itu, Hasan berharap adanya dukungan dari pemkab Lamsel khususnya Dinas Pariwisata Seni dan Budaya untuk dapat membina Sanggar Budaya Sumokh Jekhing yang didirikannya  sejak Tahun 2006 lalu. "Saat ini alat musik yang kami miliki masih terbatas. Bahkan, setiap kali ingin pentas kami harus mencari pinjaman terlebih dahulu," pungkas Hasan. (wans/aka)

No comments